Feeds:
Posts
Comments

fokus!

Sekarang memang jamannya spesialisasi. Tak mau kalah dari para profesional canggih, pemulung ini memilih fokus memunguti tutup botol bekas di area jajanan di sekitar Menteng Jakarta Pusat. Ia tidak memunguti barang-barang lain yang berserakan di sekitarnya. Dengan menggunakan tongkat bermagnet, sejumlah tutup botol langsung bisa dipungutnya sekaligus di sebuah warung minuman, lalu dimasukkannya ke dalam tas plastik yang disiapkan.

Apa yang diharapkannya dari memungut tutup botol bekas ini? Selain bisa dijual kembali ke industri kemasan botol, ia juga mengharapkan adanya tutup botol ‘adu nasib’, yakni tutup botol yang di dalamnya tertera program promosi brand minuman. Apabila beruntung mendapat durian runtuh, bisa jadi ia akan memperoleh sejumlah uang, sebuah TV atau hadiah lainnya. Memang hitungannya untung-untungan, namun begitulah faktanya. Ia memilih untuk fokus.

Melihat pemulung unik ini, saya kemudian terpacu untuk menerapkannya ke diri saya sendiri. Haha…., tentu bukan kemudian meniru menjadi pemulung, hehe….tetapi saya menjadi terpacu untuk mendorong diri saya dalam rangka menegaskan spesialisasi kompetensi diri. Di tengah-tengah rimba profesionalitas dunia kerja, rasanya saya perlu lebih menegaskan identitas diri sehingga orang lain bisa mengenalinya dengan mudah dan benar. Saya yakin, kompetensi diri saya adalah unik dan tak dimiliki oleh orang lain, sehingga saya tetap mampu bersaing.

Bagaimana membangun keyakinan itu? Sudah tentu dengan menjaga integritas diri dalam pekerjaan sehari-hari. Perilaku dan keteladanan kita sehari-hari bukannya sia-sia, melainkan makin menegaskan siapa jati diri kita ini. Apabila kita terbiasa dengan jujur, maka kita akan memperoleh label jujur dari lingkungan kita. Demikian pula sebaliknya. Barangkali itulah yang akan membedakan kita dengan perilaku para ‘pejabat’ yang sering berubah jati dirinya karena menyesuaikan diri dengan kepentingan sesaat.

Demikian pula dengan Anda. OK, selamat berjuang membangun jati diri Anda ya….

 

Oase jalanan Jakarta

Di tengah hiruk-pikuk lalulintas Jakarta, terasa segar rasanya menemui mobil berhias seperti ini. Meskipun hanya sekilas bersua namun rasanya mampu memberi kesegaran, hiburan, sekaligus inspirasi yang mengurangi kepenatan.

Ungkapan “Kapan selomu, Mas?” (kapan kamu ada waktu untukku Mas?) pastilah mengundang senyum banyak orang, tentu dengan sudut pandang masing-masing. Ungkapan ini bak mengingatkan tiap orang agar senantiasa menyediakan waktu untuk pasangan maupun keluarga yang menanti di rumah, meski aktivitas tak pernah henti. Karena jujur saja, aktivitas harian yang luarbiasa ini memang mengorbankan komunikasi di dalam keluarga. Jangankan untuk bercengkerama mengobrol, untuk sekadar telpon pun terkadang tak sempat. Paling-paling hanya diwakili dengan sms atau bbm.

Di sisi lain, dari sudut pandang laki-laki, ungkapan di kaca mobil ini bisa pula bermakna agak nakal… yang tentu mengundang senyum yang lebih lebar, terlebih didukung ilustrasi wanita cantik dengan pose menggoda.

Menilik pelat mobil unik ini yang berasal dari luar kota (Solo), apakah ini menunjukkan bahwa selera humor orang daerah lebih baik dibanding orang Jakarta? Pernahkah Anda (yang tinggal di Jakarta) menemui mobil dengan hiasan humoris seperti ini? Kalau saya sendiri rasanya nggak pernah menemuinya. Yang sering adalah mobil yang berhias komersial seperti iklan, promo event, dsb. Selain itu, ada kopaja, bajay atau mikrolet yang menampilkan slogan tetapi minus ilustrasi. Misalnya saja sebuah angkutan barang berslogan “rono rene renes” yang memiliki makna kesana kemari banyak rejeki. Mobil tersebut mondar-mandir di Jakarta Selatan dengan membawa berbagai barang angkutan yang berarti memang dia sedang menangguk rejeki melayani order dari pemesannya. Yang lainnya berslogan datar-datar saja bahkan cenderung tak menarik kemasannya.

Rasa tergelitik ini lalu berkembang menjadi lebih liar, mungkin nggak ya jika Pemda DKI  mengadakan lomba menghias mobil angkot dengan hiasan-hiasan yang menyegarkan seperti ini? Bukankah akan luarbiasa dampaknya untuk menyegarkan aura jalanan Jakarta? Bukankah suasana yang tercipta akan memberi dampak psikologis yang bagus untuk menekan rasa stress para pengemudi di tengah-tengah mampetnya jalanan? Bukankah para pengendara kemudian akan saling menularkan rasa segarnya yang kemudian akan memperkuat toleransi di jalanan? Dan juga saling menolong saat accident maupun menjadi korban kriminalitas jalanan?

Hehe…semoga Bung Foke membaca oret-oret iseng ini…

“Gue demen banget ama group kita ini. Dulu BB (blackberry) gue cuman nongkrong diem aja di atas meja deket komputer….lah sekarang krang-kring mulu, dan emang asik baca komen temen-temen” kata seorang sahabat tadi malam, dalam sebuah perjumpaan mantan kawan-kawan kuliah.

“Kalo gue paling demen nunggu komen nya si Manyul…hahaha…selalu aja lucu dan menjurus horn..” sahut kawan yang lain sambil berderai.

“Tapi yang selalu horn tuh si Ronie…ada aja isengnya….dapet darimana aja tuh foto-foto….jangan-jangan kerjaan nya cuman browsing melulu ya…” kata kawan yang lain lagi. Pertemuan yang penuh haha-hihi seperti ini semakin sering terjadi karena dipicu serunya adu komen di dunia maya, khususnya group blackberry messenger (BBM).

Begitulah situasi saat ini. Para pemegang BB mengikuti aneka group yang memiliki ciri berbeda-beda, dan dari masing-masing group memperoleh pengalaman yang berlainan. Tak heran apabila kawan pertama tadi juga mengisahkan keribetannya dengan membawa portable charger agar BB nya bisa hidup 24 jam..

Populasi BB yang makin meledak (Indonesia menduduki peringkat ke-3 dunia) di kalangan menengah atas membawa pergeseran habit online mereka, terutama dalam pola berkomunikasi dengan group. Meskipun masih dipertahankan, group milis mulai sepi bak kuburan. Sementara yang masih berseliweran adalah email pribadi dan kantor. Pergeseran ini pun berdampak pula pada area profesional. Terdapat ribuan group yang dibentuk untuk mempermudah komunikasi antar kolega atau antar unit. Bahkan, banyak pula kantor yang menyediakan sarana gadget ini gratis kepada karyawan nya untuk kepentingan koordinasi. Akibatnya, memang alat ini terus menerus berbunyi dan harus direspon.

Ramainya group BB tampaknya didorong karena alat ini cukup pintar menyediakan suasana hiburan dan kerja sekaligus. Atau dengan sisi pandang lain, pemiliknya bisa bekerja secara mudah dengan bonus hiburan.

Nah, berapa group yang Anda ikuti? He.. he….

Ngrasani Kemerdekaan

istimewa

“Merdeka!” tulis seorang teman alumni di group BBM dengan gagahnya, pagi-pagi sekali kemarin (17/8). Ia menghias tulisannya dengan bendera merah putih berkibar-kibar.

“Emangnya kita udah merdeka?” saya menimpalinya, yang ternyata mengundang komentar rekan-rekan lainnya. Salah satunya berkomentar, “Pura-pura merdeka”. Ada pula yang mengatakan: ” Wah, bagaimana mungkin merdeka jika negara kita hanya jadi pasar, tanpa kemampuan untuk menjadi negara yang mandiri?”

Diskusi -yang lebih tepatnya disebut ‘ngrasani’- ini lalu berlanjut menyebut beberapa pejabat negara yang ‘berjasa’ menempatkan republik ini ke dalam situasi yang memprihatinkan seperti saat ini. Lontaran-lontaran kalimat menjadi kocak karena kita kemudian seolah-olah bersama-sama menertawakan situasi negeri kita ini, meski dengan nada getir dan cenderung pasrah, namun tetap tidak tergiring ke dalam sarkastik. Komentar-komentar juga menjadi segar karena penyebutan nama-nama pejabat negara disampaikan dengan gaya khas Jogja -plesetan- sehingga memancing daya kreativitas anggota group untuk mengomentari satu terhadap yang lain.

Memang, di tengah-tengah situasi republik ini yang lemah di kancah kompetisi antar bangsa, sementara para pejabatnya sedang tersandera aneka skandal koruptif yang masif, maka rakyat jelata hanya bisa mengelus dada. Setidaknya, dengan alat komunikasi ini, kami berusaha untuk merasakan sedikit rasa merdeka dengan mengungkap isi hati yang sebenarnya.

“Selamat (semoga tidak pura-pura) merdeka!”

 

SPG dan mobil yang dipajang.

Pameran mobil tahunan Indonesia International Motor Show (IIMS) 2011 barusaja usai. Data-data spektakuler seputar pameran ini sudah dirilis, antara lain jumlah pengunjung dan jumlah penjualan mobil yang melampaui tahun kemarin. Jumlah pengunjung tahun ini adalah 322 ribu orang, sementara jumlah mobil terjual sebanyak 11.500 unit dengan total nilai transaksi 3,2 Trilyun.

Menyaksikan pameran IIMS ibarat menikmati saat-saat (dianggap) sebagai orang kaya. Para pengunjung disapa dengan ramah oleh para sales promotion girls (SPG) yang cantik, wangi dan sexy. Para SPG memang ditugaskan melayani pengunjung dengan ramah demi menarik minat membeli mobil yang dipajang. Beberapa booth juga menyediakan soft drink dan snack secara cuma-cuma hanya agar pengunjung merasa betah untuk stay sejenak. Bahkan ada juga stand yang menggelar live music dengan lagu-lagu country atau bosas nya. Luar biasa. Betul-betul nikmat rasanya apabila benar-benar jadi orang kaya.

IIMS ini memamerkan puluhan brand mobil dan aksesorinya. Dari sederet merk mobil ini, beberapa diantaranya adalah kategori mobil-mobil mewah. Nah, benarkah mobil-mobil mewah yang harganya selangit itu juga laku? Ketika menyaksikan IIMS ini pada hari pertama public day sore, yaitu selepas diresmikan oleh Menteri Perindustrian, saya memperoleh informasi bahwa ternyata beberapa stand mobil mewah ini sudah menikmati transaksi penjualan. Wah, rupa-rupanya banyak orang kaya Indonesia yang ‘ngempet’ (menahan selera) membeli mobil karena menunggu momentum IIMS ini. Di arena ini, mereka memiliki banyak alternatif pilihan brand sehingga leluasa menentukan pilihannya. Harga yang selangit tak menjadi masalah. Mereka lebih takut apabila salah pilih produk, terutama apabila ternyata ada seri produk terbaru dari brand pilihannya.

Nah, siapkah Anda untuk menjadi salah satu dari orang kaya Indonesia ini?

Setiap beraktivitas ke luar rumah, saya harus melewati pintu yang dijaga satpam komplek. Ada kejadian menarik setiap melewati pos penjagaan ini, yakni gaya mereka saat menyapa penghuni, baik saat penghuni mau keluar maupun masuk komplek.

Menyapa penghuni merupakan salah satu s.o.p (standard operation procedure) para satpam ini, sekaligus merupakan cara untuk mengenali orang yang keluar-masuk komplek. Juga, tentunya merupakan cara untuk menjaga keamanan komplek dari orang-orang yang tak dikenal. Setiap satpam memiliki gaya yang berbeda baik tutur kata maupun gaya penampilannya. Ada yang bertutur kata halus dan selalu rapi penampilan, ada yang bahkan terlalu rapi karena selalu mengenakan dasi di seragamnya (kecuali kostum lapangan di malam hari), tapi ada pula yang tutur katanya kasar dan bajunya sering berantakan. Lucunya, satpam yang satu ini -sebut saja pak Adam- bisa juga rapi dan berdasi, terutama dan selalu pada saat pagi jam 07.30, karena saat itulah jadwal keberangkatan ibu Dewi, yang tinggal di kavling terdepan, yang ternyata adalah direksi di perusahaan pengembang komplek perumahan ini…he..he.. Kalau saya akan lewat jam 05.30, maka bisa saya pastikan pak Adam masih mendengkur di pos nya, dan baru terbangun ketika saya bunyikan klakson di dekatnya. Dengan tergopoh-gopoh dan raut muka masih mengantuk serta baju berantakan, dia membukakan pintu dan mengucapkan selamat pagi. Tak ada senyum. Namun, apabila saya lewat bersamaan dengan jadwal berangkat bos nya itu, maka bisa dipastikan pak Adam sudah terlihat rapi dan bersiul-siul sambil menyirami bunga-bunga di sekitar posnya. Lalu dengan sigap dan penuh senyum dia membukakan pintu dan mempersilahkan kami lewat.

Pernah pada suatu pagi, saat pak Adam giliran jaga, saya sengaja melewati posnya dengan tanpa membunyikan klakson. Nah, ternyata pak Adam tetap tertidur di posnya. Lalu sayapun membuka sendiri pintu gerbang yang berat itu, sampai-sampai terdengar dentingan keras dari bunyi gembok yang beradu. Pun, itu tidak membangunkannya, hingga pintu saya tutup kembali. Oow….

Hahaha… rupanya tepat juga istilah “that’s what the boss are for”…. yaitu untuk mendisiplinkan karyawannya… Kami jadinya berharap agar ibu Dewi sesering mungkin hilir-mudik keluar-masuk komplek agar semua satpamnya jadi lebih disiplin…

Kalah bersaing. Itulah yang terlintas di benak saya ketika kemarin sore (Minggu 12/6) melintas di depan sebuah service center Nokia di kawasan Jakarta Selatan. Gedung besar nan megah itu terlihat sepi dengan lahan parkir di depannya yang kosong melompong. Di balik kaca lobby depan yang mewah dan terang benderang tampak para service advisor nya hanya bercanda dan sebagian lain hanya nonton TV.

Padahal sekitar setahun lalu, gedung itu selalu ramai pengunjung. Terlebih pada hari Sabtu-Minggu, saat para pemilik dan calon pembeli HP Nokia ber weekend dan berkesempatan mendatangi gedung itu. Saat itu, para service advisor yang cantik dan wangi, karena terlalu sibuk melayani customer, kerap bersikap tak begitu ramah. Kami para customer hanya bisa menghela nafas memaklumi keadaan, terlebih karena kami lebih membutuhkan pertolongan mereka.

Namun keadaan sudah berubah. Kalau kini service center Nokia kosong melompong, giliran sales counter Blackberry (BB) -dimanapun- yang supersibuk melayani pembeli. Kalau Nokia worldwide akan mem-phk ribuan karyawannya, sebaliknya BB makin memperluas jaringan servis nya ke seluruh dunia. Kini muncul pula beberapa produk tiruan BB yang murah meriah namun fiturnya komplet karena mengadopsi teknologinya. Bukan hanya handset nya saja, aksesorinya pun diserbu pembeli. Laris  manis. Jumlah pengguna Blackberry di Indonesia yang konon mencapai angka 5 juta pengguna sungguh nyata menggambarkan derasnya perpindahan (migrasi) pengguna handphone ke smartphone dari Kanada ini. Tampaknya keunggulan BB yang memungkinkan penggunanya online gratis terus menerus selama 24 jam inilah yang menjadi faktor utama migrasi ini. Kelebihan inilah yang memungkinkan pengguna terus terakses ke dunia maya.

Karena sangat fleksibelnya alat ini, seorang pengamat media bahkan sampai berani menyebut BB sebagai sebuah platform media baru, bukan hanya sekadar alat (handset) saja. Mengapa? Karena dengan menggunakan BB, maka pengguna seolah melompat menjadi menggunakan sebuah media yang memungkinkannya terhubung dengan teman-teman (virtual) nya terus menerus dalam beberapa format yang berbeda sekaligus. Dengan menggunakan BB, maka semua sarana dunia maya bisa diakses dengan mudah dan gratis mulai dari email, milis, FB, twitter, search engine, dll. Pilihan yang sangat beragam ini pulalah yang barangkali menyebabkan beberapa milis mulai ditinggalkan karena anggotanya sibuk menggunakan fasilitas lain yang lebih realtime dan lebih asik.

Salah satu contohnya adalah milis alumni fakultas saya yang mulai sepi. Padahal selama dua tahun pertama keberadaannya, saat itu bahkan bisa tercapai sekitar 200 posting per hari dalam milis, karena ramainya comment dan re-comment terhadap sebuah topik yang dilemparkan. Namun kini milis ini mirip ‘rumah hantu’ yang ditinggalkan penghuninya. Saat saya lacak, ternyata mereka asik update status di FB, twitter dan BBMessanger….

 

okezone.com

Seratus peti mati dikirimkan ke berbagai praktisi media dan periklanan Jakarta. Mereka kaget, publik gempar!

Meskipun peti mati ini mewakili simbol yang ingin disampaikan pengirimnya, yakni penulis buku “rest in peace marketing: the rise of womm” Sumardi, namun ternyata berujung pada urusan kepolisian. Saat ini dia sedang mendekam di sel Polres Tanah Abang Jakarta Pusat untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya meneror publik.

Menurut saya, strategi Sumardi sangat brilian. Terutama dalam upayanya untuk mempromosikan launching bukunya tersebut, jelas ia telah memperoleh efek buzz dan word of mouth dari pengiriman peti mati itu. Publik nasional gempar, seluruh media memberitakan peristiwa tersebut sepanjang dua hari kemarin (Senin 6 Juni hingga Selasa 7 Juni), dan masyarakat dari clubhouse hingga warung tegal memperbincangkannya. Bahkan radio Voice of America (VOA) menyebut ‘mission accomplished!’ (misi sukses terlaksana) untuk strategi jitu Sumardi ini.

Taktik womm (word of mouth marketing) Sumardi ini memang bagaikan pisau bermata dua. Hasil akhirnya bisa tenar (popular) atau sebaliknya malahan cemar (notorious). Sedangkan tujuannya adalah pull (menarik perhatian masyarakat) dan push (mendorong penjualan). Jadi kalau melihat hasil akhir yang dipanen Sumardi adalah sel lembab di jeruji markas kepolisian, maka tampaknya Sumardi kurang jeli dalam sentuhan akhir (finishing) strateginya tersebut. Seandainya di dalam peti kemasnya diletakkan buku yang akan di launch, mungkin nasibnya akan lain, karena orang yang dikirimi peti tak akan shock dan ter-teror. Mereka akan memahami bahwa pengiriman peti mati itu merupakan trik promosi dalam rangka penerbitan buku.

Nasi sudah menjadi bubur. Namun bagaimanapun, nama Sumardi telah membubung karena upayanya yang out of the box, meramaikan jagad komunikasi di republik ini…

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.