Kalah bersaing. Itulah yang terlintas di benak saya ketika kemarin sore (Minggu 12/6) melintas di depan sebuah service center Nokia di kawasan Jakarta Selatan. Gedung besar nan megah itu terlihat sepi dengan lahan parkir di depannya yang kosong melompong. Di balik kaca lobby depan yang mewah dan terang benderang tampak para service advisor nya hanya bercanda dan sebagian lain hanya nonton TV.
Padahal sekitar setahun lalu, gedung itu selalu ramai pengunjung. Terlebih pada hari Sabtu-Minggu, saat para pemilik dan calon pembeli HP Nokia ber weekend dan berkesempatan mendatangi gedung itu. Saat itu, para service advisor yang cantik dan wangi, karena terlalu sibuk melayani customer, kerap bersikap tak begitu ramah. Kami para customer hanya bisa menghela nafas memaklumi keadaan, terlebih karena kami lebih membutuhkan pertolongan mereka.
Namun keadaan sudah berubah. Kalau kini service center Nokia kosong melompong, giliran sales counter Blackberry (BB) -dimanapun- yang supersibuk melayani pembeli. Kalau Nokia worldwide akan mem-phk ribuan karyawannya, sebaliknya BB makin memperluas jaringan servis nya ke seluruh dunia. Kini muncul pula beberapa produk tiruan BB yang murah meriah namun fiturnya komplet karena mengadopsi teknologinya. Bukan hanya handset nya saja, aksesorinya pun diserbu pembeli. LarisĀ manis. Jumlah pengguna Blackberry di Indonesia yang konon mencapai angka 5 juta pengguna sungguh nyata menggambarkan derasnya perpindahan (migrasi) pengguna handphone ke smartphone dari Kanada ini. Tampaknya keunggulan BB yang memungkinkan penggunanya online gratis terus menerus selama 24 jam inilah yang menjadi faktor utama migrasi ini. Kelebihan inilah yang memungkinkan pengguna terus terakses ke dunia maya.
Karena sangat fleksibelnya alat ini, seorang pengamat media bahkan sampai berani menyebut BB sebagai sebuah platform media baru, bukan hanya sekadar alat (handset) saja. Mengapa? Karena dengan menggunakan BB, maka pengguna seolah melompat menjadi menggunakan sebuah media yang memungkinkannya terhubung dengan teman-teman (virtual) nya terus menerus dalam beberapa format yang berbeda sekaligus. Dengan menggunakan BB, maka semua sarana dunia maya bisa diakses dengan mudah dan gratis mulai dari email, milis, FB, twitter, search engine, dll. Pilihan yang sangat beragam ini pulalah yang barangkali menyebabkan beberapa milis mulai ditinggalkan karena anggotanya sibuk menggunakan fasilitas lain yang lebih realtime dan lebih asik.
Salah satu contohnya adalah milis alumni fakultas saya yang mulai sepi. Padahal selama dua tahun pertama keberadaannya, saat itu bahkan bisa tercapai sekitar 200 posting per hari dalam milis, karena ramainya comment dan re-comment terhadap sebuah topik yang dilemparkan. Namun kini milis ini mirip ‘rumah hantu’ yang ditinggalkan penghuninya. Saat saya lacak, ternyata mereka asik update status di FB, twitter dan BBMessanger….