“Merdeka!” tulis seorang teman alumni di group BBM dengan gagahnya, pagi-pagi sekali kemarin (17/8). Ia menghias tulisannya dengan bendera merah putih berkibar-kibar.
“Emangnya kita udah merdeka?” saya menimpalinya, yang ternyata mengundang komentar rekan-rekan lainnya. Salah satunya berkomentar, “Pura-pura merdeka”. Ada pula yang mengatakan: ” Wah, bagaimana mungkin merdeka jika negara kita hanya jadi pasar, tanpa kemampuan untuk menjadi negara yang mandiri?”
Diskusi -yang lebih tepatnya disebut ‘ngrasani’- ini lalu berlanjut menyebut beberapa pejabat negara yang ‘berjasa’ menempatkan republik ini ke dalam situasi yang memprihatinkan seperti saat ini. Lontaran-lontaran kalimat menjadi kocak karena kita kemudian seolah-olah bersama-sama menertawakan situasi negeri kita ini, meski dengan nada getir dan cenderung pasrah, namun tetap tidak tergiring ke dalam sarkastik. Komentar-komentar juga menjadi segar karena penyebutan nama-nama pejabat negara disampaikan dengan gaya khas Jogja -plesetan- sehingga memancing daya kreativitas anggota group untuk mengomentari satu terhadap yang lain.
Memang, di tengah-tengah situasi republik ini yang lemah di kancah kompetisi antar bangsa, sementara para pejabatnya sedang tersandera aneka skandal koruptif yang masif, maka rakyat jelata hanya bisa mengelus dada. Setidaknya, dengan alat komunikasi ini, kami berusaha untuk merasakan sedikit rasa merdeka dengan mengungkap isi hati yang sebenarnya.
“Selamat (semoga tidak pura-pura) merdeka!”
