Di tengah hiruk-pikuk lalulintas Jakarta, terasa segar rasanya menemui mobil berhias seperti ini. Meskipun hanya sekilas bersua namun rasanya mampu memberi kesegaran, hiburan, sekaligus inspirasi yang mengurangi kepenatan.
Ungkapan “Kapan selomu, Mas?” (kapan kamu ada waktu untukku Mas?) pastilah mengundang senyum banyak orang, tentu dengan sudut pandang masing-masing. Ungkapan ini bak mengingatkan tiap orang agar senantiasa menyediakan waktu untuk pasangan maupun keluarga yang menanti di rumah, meski aktivitas tak pernah henti. Karena jujur saja, aktivitas harian yang luarbiasa ini memang mengorbankan komunikasi di dalam keluarga. Jangankan untuk bercengkerama mengobrol, untuk sekadar telpon pun terkadang tak sempat. Paling-paling hanya diwakili dengan sms atau bbm.
Di sisi lain, dari sudut pandang laki-laki, ungkapan di kaca mobil ini bisa pula bermakna agak nakal… yang tentu mengundang senyum yang lebih lebar, terlebih didukung ilustrasi wanita cantik dengan pose menggoda.
Menilik pelat mobil unik ini yang berasal dari luar kota (Solo), apakah ini menunjukkan bahwa selera humor orang daerah lebih baik dibanding orang Jakarta? Pernahkah Anda (yang tinggal di Jakarta) menemui mobil dengan hiasan humoris seperti ini? Kalau saya sendiri rasanya nggak pernah menemuinya. Yang sering adalah mobil yang berhias komersial seperti iklan, promo event, dsb. Selain itu, ada kopaja, bajay atau mikrolet yang menampilkan slogan tetapi minus ilustrasi. Misalnya saja sebuah angkutan barang berslogan “rono rene renes” yang memiliki makna kesana kemari banyak rejeki. Mobil tersebut mondar-mandir di Jakarta Selatan dengan membawa berbagai barang angkutan yang berarti memang dia sedang menangguk rejeki melayani order dari pemesannya. Yang lainnya berslogan datar-datar saja bahkan cenderung tak menarik kemasannya.
Rasa tergelitik ini lalu berkembang menjadi lebih liar, mungkin nggak ya jika Pemda DKI mengadakan lomba menghias mobil angkot dengan hiasan-hiasan yang menyegarkan seperti ini? Bukankah akan luarbiasa dampaknya untuk menyegarkan aura jalanan Jakarta? Bukankah suasana yang tercipta akan memberi dampak psikologis yang bagus untuk menekan rasa stress para pengemudi di tengah-tengah mampetnya jalanan? Bukankah para pengendara kemudian akan saling menularkan rasa segarnya yang kemudian akan memperkuat toleransi di jalanan? Dan juga saling menolong saat accident maupun menjadi korban kriminalitas jalanan?
Hehe…semoga Bung Foke membaca oret-oret iseng ini…