Sekarang memang jamannya spesialisasi. Tak mau kalah dari para profesional canggih, pemulung ini memilih fokus memunguti tutup botol bekas di area jajanan di sekitar Menteng Jakarta Pusat. Ia tidak memunguti barang-barang lain yang berserakan di sekitarnya. Dengan menggunakan tongkat bermagnet, sejumlah tutup botol langsung bisa dipungutnya sekaligus di sebuah warung minuman, lalu dimasukkannya ke dalam tas plastik yang disiapkan.
Apa yang diharapkannya dari memungut tutup botol bekas ini? Selain bisa dijual kembali ke industri kemasan botol, ia juga mengharapkan adanya tutup botol ‘adu nasib’, yakni tutup botol yang di dalamnya tertera program promosi brand minuman. Apabila beruntung mendapat durian runtuh, bisa jadi ia akan memperoleh sejumlah uang, sebuah TV atau hadiah lainnya. Memang hitungannya untung-untungan, namun begitulah faktanya. Ia memilih untuk fokus.
Melihat pemulung unik ini, saya kemudian terpacu untuk menerapkannya ke diri saya sendiri. Haha…., tentu bukan kemudian meniru menjadi pemulung, hehe….tetapi saya menjadi terpacu untuk mendorong diri saya dalam rangka menegaskan spesialisasi kompetensi diri. Di tengah-tengah rimba profesionalitas dunia kerja, rasanya saya perlu lebih menegaskan identitas diri sehingga orang lain bisa mengenalinya dengan mudah dan benar. Saya yakin, kompetensi diri saya adalah unik dan tak dimiliki oleh orang lain, sehingga saya tetap mampu bersaing.
Bagaimana membangun keyakinan itu? Sudah tentu dengan menjaga integritas diri dalam pekerjaan sehari-hari. Perilaku dan keteladanan kita sehari-hari bukannya sia-sia, melainkan makin menegaskan siapa jati diri kita ini. Apabila kita terbiasa dengan jujur, maka kita akan memperoleh label jujur dari lingkungan kita. Demikian pula sebaliknya. Barangkali itulah yang akan membedakan kita dengan perilaku para ‘pejabat’ yang sering berubah jati dirinya karena menyesuaikan diri dengan kepentingan sesaat.
Demikian pula dengan Anda. OK, selamat berjuang membangun jati diri Anda ya….