Feeds:
Posts
Comments

 

 

Merak indiaPagi ini 28 Oktober 2014 saya mengantar anak bungsu menuju GOR Ragunan. Jam 06.45 kami sampai di TKP yang sudah dipenuhi oleh ratusan anak-anak SD-SMP-SMA berseragam Pramuka. Disana-sini ada aneka aksesori upacara yang sudah disiapkan seperti balon udara, peralatan drum band, panggung, dll. Pagi ini anak-anak akan mengikuti upacara peringatan hari Sumpah Pemuda.

Sambil menunggu si bungsu bertemu teman-teman sekolahnya, saya berkeliling mengamati situasi sambil terpikir sesuatu. Sejujurnya, bagaimana anak-anak dan remaja ini memaknai Sumpah Pemuda? Selain menghafal poin-poin Sumpah Pemuda, kira-kira bagaimana ya mereka menerapkannya dalam dinamika pergaulan sehari-hari?

Dari ketiga poin Sumpah Pemuda, selain sumpah tentang bertumpah darah dan berbangsa satu, poin tentang berbahasa Indonesia pasti sangat menarik untuk dijadikan bahan diskusi. Tentu saja topik yang menarik adalah saat penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dibenturkan dengan gaya remaja berbahasa sehari-hari, atau yang lazim disebut bahasa gaul. Diskusi akan melebar manakala menyinggung peran media-media (beserta iklannya) yang menyasar remaja sebagai audiens-nya.

Salah satu ikon yang menjadi ‘contoh jelek’ remaja berbahasa baik dan benar adalah pesohor Cinta Laura. Celakanya, namanya justru melambung karena gaya bicaranya yang menggunakan bahasa campur aduk. Wajahnya yang berstruktur blasteran bule mendorong media elektronik memunculkannya dengan intens sehingga menjadi idola remaja. Gaya bicaranya berbahasa Indonesia yang jelek, kental dengan nuansa bule dicampuradukkan dengan bahas bule. Lebih celaka lagi, kekhasannya ini juga dimanfaatkan secara komersial oleh para pengelola produk dengan menjadikannya sebagai endorser produk-produk remaja.

Contoh lain yang pernah naik daun, meski hanya sejenak, adalah gaya bicara Vicky Prasetyo. Gaya bicara si ‘kontroversi hati’ dan ‘konspirasi kemakmuran’ ini pernah membuat heboh, menjadi hit, dan kemudian berangsur menghilang. Hanya saja, segmen masyarakat yang terkena tsunami Vickinisasi ini kebanyakan adalah orang dewasa.

Namun syukurlah, saat ini masih banyak pihak yang konsisten mendorong remaja untuk berbahasa dengan baik dan benar. Setidaknya hal ini memberi rasa aman kepada para orangtua. Selebihnya, dalam konteks bahasa pergaulannya, terserah kepada para remaja untuk berkreasi. Dengan cara-cara yang kreatif sepanjang dalam koridor kebangsaan, barangkali itulah cara remaja memaknai Sumpah Pemuda.

Gen Y

“Okay friends. Kali ini kita akan ngebahas rancangan acara secara rundown. Gue ude broadcast konsepnya by email kemarin, jadi sekarang kita langsung detilnya ya,” kata seorang muda saat memulai sebuah rapat di kantor swasta.

Begitulah gaya bicara karyawan muda di perkantoran saat ini. Ditambah gaya rambutnya yang tak berbentuk, baju ‘awut-awutan’, celana jins superketat, sepatu kets tipis tanpa kaos kaki, mereka mulai memberi warna baru di ruang-ruang rapat. Jangan harap, setelah bicara begitu lalu dia aktif me-lead arus adu argumentasi antar audiens rapat. Yang terjadi, sejenak kemudian dia sudah asik memainkan gadgetnya untuk men-cek status social media. Bisakah kita menegur mereka agar meletakkan gadget dan fokus mengikuti rapat? Hahaha…, jangan harap.

Itulah generasi Y atau biasa disebut gen Y. Mereka adalah anak-anak muda kelahiran tahun 1980-1990an yang kini mulai memasuki dunia kerja. Sebagai digital native (generasi yang ketika lahir sudah berada di era digital) mereka memiliki pengetahuan yang luas karena dipermudah oleh kecanggihan teknologi internet. Namun di sisi lain, pengetahuan mereka ini terkadang hanya terbatas permukaan saja, misalnya fenomena global, aneka berita hardnews,  atau perkembangan situasi mancanegara.

Kemudahan googling di internet juga membuat mereka bersikap kurang well planed. Dengan tablet di tangan, mereka merasa aman memasuki ruang rapat dengan kondisi kepala yang ‘kosong’.

Lalu, apakah mereka kerasan bekerja di kantoran? Hahaha….lagi-lagi, jangan harap. Dengan masa kerja yang baru 1 atau 2 tahun, dan menganggap kantor sebagai sekolah bisnis, banyak yang dengan gagah berani resign dan memulai berjualan di internet.

“Siyaaap bro, gue langsung kirim barangnya ke TKP ya. Buruan, ini mumpung masih diskon dari sononya,” demikian yang kemudian bersliweran di social media saat ini.

*tentu, beberapa fakta ini hanya sebagian kecil fenomena gen Y…

Koalisi

Hingga detik ini, sidang MPR RI yang beragendakan pemilihan ketua dewan tertinggi negara ini tetap belum berhasil memutuskan sesuatu. Pertentangan hebat dua kubu Koalisi Merah Putih (KMP) yang merupakan gabungan partai pendukung Prabowo-Hatta versus Koalisi Indonesia Hebat (KIH) yang mendukung Jokowi-JK masih belum menemukan titik terang. Meskipun hadir kekuatan penyeimbang Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, perseteruan ini benar-benar membosankan dan (mulai) memuakkan.

Gonjang-ganjing politik di negeri ini tak terlepas dari perseteruan Jokowi-JK versus Prabowo-Hatta di pilpres kemarin. Suhu politik terus meningkat hingga detik ini dan mulai menyandera rencana-rencana masyarakat. Barusaja saya dikonfirmasi seorang teman pengusaha yang memilih menunda investasinya di bisnis properti karena situasi yang belum menentu. Kantor-kantor swasta yang lainnya juga bersikap ‘wait and see’ untuk melihat arah angin.

Masyarakat agaknya juga mulai sinis memandang perkembangan ini. Tak sedikit pemilih Prabowo yang mulai mengernyitkan dahi melihat sepakterjang (mantan) capresnya menghancurleburkan kekuatan politik seterunya. Di sisi lain, pandukung Jokowi-JK juga mulai bertanya-tanya bagaimana langkah presiden ke-7 ini akan berkiprah dengan ganjalan-ganjalan yang sangat keras dari Senayan.

Terlepas dari itu semua, tak sedikit pula masyarakat yang tetap kreatif dan santai menanggapi situasi. Di sana-sini muncul berbagai koalisi tandingan yang cukup kuat dan siap beradu argumentasi. Ada ‘koalisi mie godhog’ yang beranggotakan penggemar kuliner bakmi rebus khas jawa, ada ‘koalisi gulali’ yang menggemari kuliner khas sunda, ada ‘koalisi otot kawat’ yang merupakan komunitas penggemar fitness, tapi ada juga ‘koalisi wathathitha’ yang merupakan group sosial media yang berkonten dewasa.

Inilah potret masyarakat bhineka tunggal ika….

bulan madu kotak-kotak

Setelah Jokowi dilantik menjadi Gubernur DKI Senin 15 Oktober 2012 lalu, namanya menjadi trending topic di setiap paltform media. Koran, majalah, TV, radio, situs, FB, group BB, twitter, instagram, dll beramai-ramai tanpa henti menggemakan nama dan tingkah laku mantan Walikota Solo ini.

Tiap pagi wartawan sudah nongkrong di depan rumah dinas Gubernur ‘cengkring’ ini untuk mengetahui jalur ‘blusukannya’ ke kampung-kampung Jakarta pada hari itu. Setelah itu, media terus membuntuti kemana saja rombongan Gubernur dan para Kepala Dinas nya bergerak. Setiap peristiwa yang terjadi pada rombongan niscaya menjadi hot news yang langsung diteriakkan ke khalayaknya. Misalnya, ketika Jokowi dicegat seorang ibu sesaat akan memasuki kantornya, atau ketika membeli mangga di perkampungan kumuh, langsung menjadi berita besar yang menggema kemana-mana.

Segala atribut yang menyertai sang Gubernur baru ini juga menjadi bunga rampai pemberitaan. Dari mobilnya yang ternyata masih rental, tempat menginapnya saat berkampanye, kesukaannya membawa sarapan roti di mobil, menggunakan minyak kayu putih sebagai ‘parfum’, profil bisnisnya, profil isterinya, bahkan sampai profil sopirnya adalah topik pemberitaan yang hangat bagi seluruh masyarakat.

Semua eforia ini sesungguhnya adalah bulan madu sang Gubernur baru. Masa-masa awal ini masih terasa manis bagi Jokowi karena dielu-elukan di setiap pojok ibukota, dari lapisan masyarakat atas hingga yang paling merana.

Selanjutnya, dalam beberapa minggu atau bulan ke depan, apa yang akan terjadi? Menurut Cipta Lesmana, pengamat politik, Jokowi akan menghadapi ‘potensi hadangan’ baik dari internal birokrat pemda DKI atau dari parlemen daerah yang mayoritas tidak memilihnya. Kerikil dari birokrat ini adalah dalam bentuk ‘antiprogram’ karena kelakuan Gubernur baru ini menjadi ancaman comfort zone para bawahannya. Bentuknya bisa bermacam-macam, tetapi pada umumnya adalah dengan tidak menjalankan keputusan-keputusan Gubernur sehingga program terbengkelai dan masyarakat mulai berteriak complain. Sementara dari parlemen daerah tentu saja ada potensi menghadang pengajuan anggaran sehingga program bisa terkatung-katung atau tidak terlaksana karena anggaran tidak disetujui.

Apabila terjadi situasi seperti itu, lalu Jokowi harus bagaimana? Ya gampang saja: mengadulah ke masyarakat yang memilihnya sehingga masyarakatlah yang nanti akan bergerak melawan penghadangan-penghadangan itu.

Nah, situasi itu akan terjadi tidak lama lagi. Masa bulan madu kotak-kotak akan segera berakhir. Hidup yang sebenarnya akan segera terjadi. Selamat bekerja pak Jokowi!

Paranoid

Menjelang Pilkada DKI putaran kedua 20 September 2012 nanti, suasana politik ibukota makin panas, dan ada gejala menjalar ke lokasi lain, terutama kota Solo.

Kota Solo yang selama ini kita kenal sebagai kota yang adem ayem tentrem khas jawa tiba-tiba saja sering bergolak dan terteror. Ketentraman sang Walikota yang merupakan pemenang putaran pertama Pilkada DKI ‘diusik’ dengan teror yang beruntun: perang preman, penembakan pos polisi, dan terakhir semalam ada penembakan pos yang menewaskan seorang polisi. Tentu tujuannya adalah membangun image Solo sebagai contoh buruk sebuah kota di negeri ini.

Pihak-pihak di pilkada DKI yang berseberangan dengan Jokowi kontan menolak tudingan sebagai penyebab suasana kisruh ini, namun banyak pula yang berkeyakinan sebaliknya.

Sebaliknya di Jakarta sendiri, beruntun pula terjadi musibah kebakaran yang mengenaskan. Tudinganpun tertuju ke pihak yang berseberangan dengan Foke sang penguasa ibukota, dengan tudingan ingin menciptakan kesan berantakannya suasana ibukota. Tentu pula, kubu Jokowi langsung membantah.

Panasnya suasana pilkada ini sudah sangat terasa saat ini meski jadwal kampanye belum dimulai. Di beberapa lokasi terlihat mobil di pinggir jalan berjualan baju kota-kotak. Laris tampaknya. Di beberapa tempat ibadah pun, termasuk di dekat rumah saya, para ulama gencar meniru langkah Rhoma Irama mengingatkan umatnya agar memilih pemimpin yang seagama. Pun, spanduk bergambar kumis tebal juga terpampang di beberapa titik.

Perang ikon ini makin memanas. Paranoid terjadi dimana-mana. Hanya, sampai di batas manakah para pengikut ini sanggup menarik garis lurus agar tak terjadi singgungan fisik?

Bahkan, kalau memungkinkan, ada grey area dimana banyak terpampang spanduk kumis bercorak kotak-kotak…atau orang-orang yang berbaju kotak-kotak tapi berkumis semua…..

Hahaha…mimpi kaliii….

 

Berkumis

Foke memang berkumis tebal di wajahnya. Dengan kumis itu, ia tampak lebih gagah dan berwibawa. Namun, team sukses Hendardji-Ahmad Riza Patria dalam pilkada DKI 2012 justru menjadikan kumis ini sebagai lambang bencana DKI yang harus dibasmi. Dengan cerdas, mereka mengusung semboyan yang intinya Jakarta harus bebas dari “berkumis”: berantakan, kumuh dan miskin. Jakarta sungguh berantakan karena banjir dan macet, sungguh kumuh karena tatakota yang amburadul, dan sungguh miskin karena jumlah pengemis yang membludag di seantero perempetan jalanan…hahaha….

Pesan politik ini sungguh cerdas karena secara riil mengajak warga untuk membenahi “berkumis” tadi, tetapi sekaligus juga menohok bang Kumis yang merupakan calon petahana.

Tentu saja slogan kampanye ini diprotes oleh team sukses Foke dan sampai saat ini masih dalam tahap proses yang ditengahi oleh KPU. Sementara, team sukses calon lainnya tersenyum-senyum sambil menanti celah yang tepat untuk memanfaatkan situasi yang ada.

Saya bukan pengikut Hendardji-Ahmad Riza Patria, namun kasus ini memang menarik untuk ditonton dan diikuti akhir ceritanya. Maklum, pilkada DKI akan sangat seru karena menjadi barometer pilpres yang akan segera menyusul.

Menonton film “Soegiya” karya Garin Nugroho sebenarnya asyik juga. Dilatarbelakangi semangat keagamaan, penonton berbondong-bondong ke bioskop dalam komposisi yang komplet: bapak-ibu, anak, kawan, tetangga, mertua, orangtua, dan umat lingkungan dari paroki sendiri maupun paroki lain. Tujuannya sama yaitu ingin mengetahui peran Mgr Sugiyopranoto dalam perjalanan sejarah bangsa ini.

Semangat makin menggebu tatkala berbagai kalangan menilai film ini sebagai karya Garin yang langka, sangat berkualitas, dan paling mahal. Dengan berbekal bumbu-bumbu inilah sayapun berangkat menikmatinya pada hari Sabtu kemarin, di Jakarta.

Namun, apa yang saya tonton ternyata tak seindah bumbu-bumbu penyedap tadi. Suguhan Garin tak sekelas nama besarnya. Apa pasal?

Skenario film loncat-loncat dengan tak menampakkan benang merah yang jelas. Tokoh sentral Mgr Sugiyopranoto tampil tidak menjadi tokoh sentral yang menonjol. Kehadiran Mariyem, seorang perawat dalam perjuangan republik ini sempat lebih menonjol dalam skenario. Kisah pergulatannya, asmaranya, dan pengabdiannya terekspos cukup dominan. Bahkan, saking menonjolnya, jangan-jangan akan lebih pas kalau film ini diberi judul “Mariyem” saja.

Beberapa adegan tampak sangat dipaksakan, bahkan cenderung menafikan kecerdasan penonton. Misalnya ketika si Lingling bersama Mariyem berdoa “Salam Maria” di depan patung Bunda Maria penghias kandang Natal di Gereja Bintaran, ia mendapat penjelasan dari Mariyem, bahwa ketika kita berdoa kepada Bunda Maria, maka doa itu akan disampaikan oleh Bunda kepada seluruh ibu di muka bumi ini. Lalu Lingling berdoa dengan serius. Sambil berdoa, ia tiba-tiba berdiri, lalu berjalan ke arah pintu Gereja, dan bertemulah ia dengan ibunya yang telah berpisah sekian lama akibat pengungsian-paksa oleh tentara Jepang. Sesederhana itukah datangnya karunia, atau keajaiban, atau mukjizat?

Juga ketika Robert, si tentara Belanda kejam, berpesta bir sambil berpamitan kepada teman-temannya bahwa ia akan segera kembali ke Belanda, maka tiba-tiba ia tertembak oleh senapan pejuang RI dan tewas. Padahal tempat itu dijaga ketat oleh penjagaan, yang tak memungkinkan pejuang bisa dengan mudah menerobos dan menembaknya. Sesederhana itukah cara untuk mengakhiri peran Robert?

Akhirnya, dalam perjalan pulang, saya bilang ke istri dan anak-anak, “Kalau diminta menilai dengan range angka 1 sampai 10, maka aku akan menilai film ini dengan angka 6.”

Namun, saya tetap akan menganjurkan Anda untuk menonton film langka ini. Dengan catatan, jangan mengharapkan kepuasan yang berlebihan.